Ads


» » » Wamentan Rusman Heriawan : Perlu Ada Inovasi Dalam Sektor Pertanian Kedelai

JCC, Cendrawasih Room, Jakarta BeritaRayaOnline- Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan menegaskan, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk komoditas kedelai yang saat ini mencapai Rp 7.000 per kilo gram (kg) tak perlu diubah. Menurutnya, HPP tersebut masih ideal bagi semua pelaku usaha komoditas ini.

Menurut Rusman, tingkat HPP sebesar Rp 7.000 per kg sesungguhnya bisa diterima petani. "Cuma karena kondisi rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS, banyak petani tak mengikuti HPP lagi," kata Wakil Menteri Pertanian  Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat, (30/8/2013) usai bersama Menko Perekonomian Hatta Rajasa membuka Expo Nasional Inovasi Perkebunan (ENIP) bertemakan " Perkebunan Sebagai Pilar Strategis Green Economy Indonesia"berlangsung sampai Minggu (1/9/2013).

Untuk mengatasi gejolak harga kedelai, Rusman menambahkan, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No 32 Tahun 2013.
Beleid itu dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan kepada petani maupun pengusaha tahu tempe. Asumsi saat Perpres tersebut terbit, harga impor kedelai sebesar Rp 5.000 per kg.

Perpres itu kemudian menugaskan Badan Urusan Logistik ditugaskan untuk membeli kedelai petani dengan harga Rp 7.000/kg. Margin inilah yang memberi keuntungan pada petani.
Selain itu, pengusaha tahu tempe juga bisa memperoleh kedelai lebih murah dari petani. "Tetapi dengan kondisi dollar saat ini, tentu tidak lagi," jelas Rusman.

Rusman berharap, kondisi nilai tukar rupiah bisa segera pulih kembali. "Nanti kalau rupiah sudah turun lagi, pemerintah akan menjamin harga kedelai tidak melonjak lagi,"katanya.

Inovasi Sektor Pertanian Kedelai



 Kebutuhan kedelai secara nasional sebanyak 70% dipasok dari impor khususnya dari AS. Perlu ada inovasi dalam sektor pertanian kedelai, karena Indonesia bukan negara sub tropis.

Setiap tahun Indonesia butuh 2,5 juta ton kedelai, sebanyak 1,7 juta ton masih dipasok dari kedelai impor sisanya dari petani lokal.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan‪ menjelaskan perlu kerja keras agar Indonesia tidak terlalu tergantung dengan kedelai impor. Perlu adanya inovasi terhadap produk kedelai agar tumbuh baik di iklim tropis karena kedelai merupakan produk tanaman di iklim sub tropis, sedangkan Indonesia negara tropis.

"Memang yang paling baik kita bisa berjaya khususnya bisa produksi sendiri. Kedelai kan cocoknya sub tropis (iklim), bukan dalam musim kemarau kayak gini jadi kuncinya memang inovasi," ucap Rusman usai pembukaan acara Expo Nasional Inovasi Perkebunan (ENIP) 2013 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (30/8/2013).



Disebutkan Rusman, Indonesia saat ini hanya mampu memproduksi hingga 800.000 ton kedelai per tahun. Sisanya atau sebanyak 1,7 juta ton harus didatangkan dari luar negeri seperti AS.

Pada kesempatan itu, Rusman mengaku persoalan kedelai kini berbeda dengan tahun lalu. Tahun ini lebih dipengaruhi faktor kenaikan kurs sehingga membuat harga kedelai melambung bukan karena suplai dunia seperti yang terjadi Juli 2012.

"Gejolak harga kedelai yang sekarang itu berbeda dengan setahun lalu. Kalau dulu faktornya supply yang berkurang, impornya yang berkurang, harganya yang mahal karena supply di AS berkurang karena kemarau panjang. Sekarang supply nggak ada masalah tapi karena dolar menguat, tiba-tiba harga kedelai juga naik. Tapi kita kan nggak salah apa-apa tapi harganya naik," jelasnya.(dari berbagai sumber/lasman simanjuntak)
Foto-foto oleh :LasmanSimanjuntak/BeritaRayaOnline

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini