Ads


» » » Kinerja Ekspor Komoditas Unggulan Perkebunan Mengalami Kenaikan


Jakarta, BeritaRayaOnline.Com, Selama periode 2009 sampai 2012 sektor perkebunan menunjukkan peningkatan kinerja yang sangat signifikan. Penyerapan tenaga kerja di sub sektor perkebunan mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2009 hingga menjadi 21,12 juta di tahun 2012.

Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Ir.Gamal Nasir MSi, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (30/8/2013), usai pembukaan  Expo Nasional Inovasi Perkebunan (ENIP) bertemakan "Perkebunan Sebagai Pilar Strategis Green Economy Indonesia" di JCC, Senayan, menjelaskan capaian kinerja ekspor komoditas unggulan perkebunan sejak tahun 2009 mengalami kenaikan.

Nilai ekspor kelapa sawit meningkat dari US$ 11,72 miliar pada 2009 menjadi US$ 20,78 miliar pda 2012.Karet juga meningkat dari US$ 3,45 miliar menjadi US$ 11,9 miliar. Kelapa sawit meningkat dari US$ 489 juta menjadi US$ 1,2 miliar. Kopi meningkat dari US$ 829 juta menjadi US$ 1,04 miliar, dan lada dari US$ 130 juta menjadi US$ 214 juta.

"Pangsa pekebunan terhadap pertanian dalam penerimaan ekspor yang semula hanya sebesar 94,23% pada 2009, kemudian mencapai 97.39% pada 2012. Dimana ekspor utama diperoleh dari komoditas kelapa sawit, karet, kakaodan kopi," katanya.

Pada sektor perkebunan dalam konteks nasional mencakup (a) pertumbuhan ekonomi (b) penciptaan kesempatan/lapangan kerja (c) pembangunan sosial dan pengurangan kemiskinan, (d) pengembangan wilayah, (e)pemenuhan kebutuhan pangan dan non pangan serta (f) ekspor."Dalam konteks global maka peran sektor perkebunan mencakup penduduk,peningkatan konsumsi per kapita, pergeseran konsumsi, subtiitusi bahan bakar subtitusi pakan, subtitusi serat, dan penyedia karbon," jelas Dirjen Perkebunan Gamal Nasir.

Tantangan Industri Kelapa Sawit

Khusus mengenai tantangan industri kelapa sawit saat ini, Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Ir.Gamal Nasir, peran berbagai pihak terkait menjadi penting dengan semakin meningkatnya tantangan yang dihadapi industri kelapa sawit, seperti masih rendahnya rerata produktivitas tanaman kelapa sawit nasional maupun meningkatnya tuntutan terhadap masalah lingkungan gencarnya kampanye anti minyak sawit dengan alasan kesehatan maupun sosial dan kerusakan lingkungan.

Upaya untuk mengatasi belum optimalnya produktivitas kelapa sawit terutama yang dihadapi oleh perkebunan rakyat memerlukan dukungan berbagai pihak dalam hal peningkatan pemahaman pekebun terhadap pentingnya bibit unggul, penerapan kultur teknis secara standar  maupun bantuan penyediaan sarana produksi dan bahan tanaman unggul.

"Tuduhan yang gencar disampaikan oleh berbagai pihak bahwa minyak kelapa sawit mengandung bahan yang berbahaya bagi kesehatan ternyata tidak terbukti. Penelitian-penelitian klinis terkakhir telah banyak membuktikan  bahwa minyak sawit bersifat netral pada kadar lipida darah. Sifat hiperkolesterolemika asam palmitat yang banyak terkandung dalam minyak sawit ternyata dapat ditekan oleh sifat hipokolesterolemik dari asam oleatdan juga linoleat,"jelasnya.

Saat ini telah dibuktikan bahwa asam palmitat tidak bersifat hiperkolesterolemik apabila dikonsumsi bersama dengan asam lemak tak jenuh ganda atau PUFA. Beberapa studi bahkan membuktikan bahwa konsumsi minyak sawit dapat menurunkan total kolestrol dan LDL kolestrol,serta meningkatkan HDL kolestrol yang sering disebut sebagai kolestrol baik dalam darah.

Selain itu margarin atau shortening yang terbuat dari minyak sawit tidak mengandung asam trans yang bersifat kurang baik terhadap kesehatan studi epidemiologi juga menunjukkan adanya hubungan yang erat antara karoten dengan pencegahan beberapa jenis penyakit kanker seperti kanker mulut, tenggorokan paru-paru, kolon, dan lambung, sehingga B-karoten dapat dikategorikan sebagai salah satu dari 10 senyawa antikanker utama.(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini