Ads


» » » Gejolak Nilai Tukar Mengguncang Industri Konstruksi Nasional


Hotel Atlet Century, Jakarta, BeritaRayaOnline.Com,- Fluktuasi nilai tukar mata uang asing (dollar AS) terhadap rupiah yang meningkat lebih dari 20 % pada periode Juni-September 2013 telah mengakibatkan melambungnya harga berbagai material utama konstruksi. Hal tersebut merupakan tekanan ketiga terhadap industri konstruksi pada tahun ini setelah kebijakan pemerintah menaikkan UMR dan harga BBM bersubsidi yang menambah beban bagi para pelaku jasa konstruksi. Kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada kenaikan  material utama konstruksi saja tetapi juga material lain, transportasi/angkutan, dan tuntutan kenaikan upah pekerja.

Demikian dikatakan oleh Ir.Tri Widjajanto J, MT, Ketua  Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional ( LPJKN) dalam pertemuan dengan wartawan di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu siang (25/9/2013)."Kenaikan harga yang terjadi saat ini sudah di luar batas kewajaran atau jauh di atas perkiraan resiko yang biasa dihitung pelaku usaha jasa konstruksi sehingga bisa dianggap sebagai kondisi kahar atau force majeur seperti yang terjadi pada 2005 dan 2006 "katanya.

Kenaikan harga pada material utama s/d September 2013 jenis material solar industri (10%-15%), aspal (15%-20%), besi beton (10%-15%), dan beton readymix (12%-17%). Beberapa pemasok material dan peralatan menahan barang dan tidak bersedia mengikat harga untuk periode lebih dari satu mingu."Dampak kenaikan yang sangat siginifikan tersebut adalah turunnya kinerja pelaksanaan konstruksi dan mengganggu pencapaian target sebagaimana ditetapkan dalam kontrak,"kilahnya.

Dikatakan lagi oleh Ir.Tri Widjajanto J MT, Ketua LPJKN, kondisi tersebut dapat mengakibatkan para penyedia jasa tidak sanggup lagi meneruskan pekerjaan (kewajiban kontrak), sehinggga bila hal ini terjadi akan sangat menganggu penyelenggaraan percepatan pembangunan infratsruktur yang telah dicanangkan oleh pemerintah serta pembangunan nasional secara keseluruhan.

LPJKN bersama asosiasi jasa konstruksi mengajukan permohonan dukungan pemerintah terkait :
1.Besarnya jumlah SDM yang terlibat di sektor jasa konstruksi dan ancaman terjadinya PHK.
2.Multiplier effect jika terjadi guncangan, kerugian, dan stagnasi sektor jasa konstruksi.
3.Turunnya daya saing pelaku jasa konstruksi khususnya dalam menghadapi AFTA pada 2015.

Untuk menyelamatkan sektor jasa konstruksi, LPJKN bersama asosiasi jasa konstruksi mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan sebagai berikut ;
1.Penetapan kejadian kahar dan pemberlakuan  penyesuaian harga terhadap seluruh kontrak, baik kontrak tahun jamak maupun tahun tunggal dan lumpsum.
2.Penyesuaian harga tersebut hanya pada periode krisis yang ditetapkan.
3. Pelaksanaan optimasi dan atau penundaan pada proyek tertentu apabila penyesuaian harga tidak dapat diberikan.
4.Penyedia  jasa konstruksi diperbolehkan berhenti tanpa sanksi apapun jika kesepakatan atas penyesuaian harga tidak tercapai.
5.Peninjauan besaran PPh final jasa konstruksi sampai dengan krisis berakhir.
6.Kebijakan kemudahan pengadaan material konstruksi dan pengurangan pajak impor, khusus material strategis yang digunakan untuk pembangunan nasional.(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini