Ads


» » » Prof.Dr.Sri Rezeki : Membuat Vaksin Itu Tidak Gampang !


Teks Foto :  Ketua Satgas Imunisasi IDAI atau Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof.Dr.Sri Rezeki S Hadinegoro, Sp (K) (foto atas). Dua nara sumber temu media di Jakarta, Selasa pagi (20/8/2013) yaitu Prof.Dr.Sri Rezeki S Hadinegoro Sp (K),dr.Desak Made Wismarini, NKN Dir.Surveilans, Imunisasi, Karantina, dan Kesehatan Matra, serta Busroni dari Puskom Publik Kementerian Kesehatan. (foto bawah) sedang memberikan keterangan pers. (Foto :Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline).

Rasuna Said, Jakarta Selatan, BeritaRayaOnline.Com,-"Membuat vaksin itu tidak gampang, perlu waktu sampai puluhan tahun.Dicoba dulu dalam sebuah cawan di laboratorium dengan memasukkan kuman sebagai percobaan pertama kali. Percobaan kedua yaitu binatang mencit disuntik dengan vaksin tersebut, mati atau tidak. Kalau pada binatang tak aman, tidak diteruskan ke manusia. Ini merupakan uji klinis pertama," jelas Prof.Dr.Sri Rezeki S Hadinegoro Sp (K), Ketua Satgas Imunisasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Menjawab pertanyaan wartawan BeritaRayaOnline dalam acara temu media di ruang Maharmardjono, gedung Adyatma, Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa pagi (20/8/2013), mengenai peluncuran vaksin baru diproduksi dalam negeri oleh PT.Bio Farma yaitu Hib (haemophillus influenzae type b) ,Prof.Dr.Sri Rezeki mengatakan lagi vaksin  kemudian dicoba lagi pada orang sehat dan berusia dewasa.

"Biasanya  imunisasi diberikan kepada para tentara karena berbadan sehat di bawah 30 orang dalam kelompok kecil. Tentara kan pasti patuh oleh perintah komandannya. Nah, kalau itu aman, dicoba melalui anak, bikin kelompok-kelompok kecil dibanyak negara. Ini masuk fase uji klinis tahap kedua. Untuk fase uji klinis tahap ketiga bagaimana kondisi di lapangan, sedangkan fase uji klinis tahap keempat, setelah ada di pasaran. Sudah dipakai puluhan juta, dan sudah disetujui Badan POM, tetapi tetap dipantau peredaran vaksin oleh sebuah komisariat,"ujarnya.

Mengapa kita butuh vaksin baru ? Di Asia Tenggara diberi satu panduan pertama, harus cocok dan butuh serta penyakitnya ada di negara itu.Kemudian berapa besar prosentase apa menimbulkan kematian. Kedua, apakah vaksin yang diberi cukup "aman"tidak menimbulkan effek samping. Ketiga memberi perlindungan yang cukup baik. Keempat, apa vaksin dalam negeri ada terus- apalagi ini merupakan program nasional- sehingga ada kesinambungan dalam logistik. Kelima, upaya pencegahan paling cost effective dan lebih murah."Inilah kelima persyaratan tersebut" selanya.

Sedangkan menjawab pertanyaan wartawan BeritaRayaOnline mengenai pneumonia menyebabkan kematian terbesar pada anak (25 %), Prof.Dr.Sri Rezeki S Hadinegoro mengatakan pneumonia (radang paru-paru basah pada sel-sel paru), penyebabnya adalah bakteri, virus, jamur, cacing,dan polusi asbes."Pneumonia ini bisa dicegah dengan imunisasi. Penyakit TBC sudah ada imunisasi. Begitu pula DPT atau batuk 100 hari, dan penyakit campak. Kematian pada anak bukan karena campaknya, melainkan pneumonia. Hib, penyakit pada anak-anak, jarang pada orang dewasa,merupakan kolonisasi atau hidup di tenggorokan .Apalagi perokok, bisa menular pada anak-anak,"jelasnya.

 Sementara itu dr.  Desak Made Wismarini, NKN, Dir.Surveilans, Imunisasi, Karantina, dan Kesehatan Matra, Kementerian Kesehatan menambahkan hasil kajian regional review meeting on immunization WHO/SEARO di New Delhi dan Komite Ahli Penasihat Imunisasi Nasional/ITAGI tahun 2010 merekomendasikan agar vaksin Hib diintegrasikan ke dalam program imunisasi nasional untuk menurunkan angka kesakitan, kematian, dan kecacatan bayi dan balita akibat pneumonia dan meningitis. Untuk keamanan vaksin Badan Pengawas Obat dan Makanan telah menerbitkan izin edar bagi vaksin DPT-HB-Hib, Nomor : DKL 1302906943A1 tanggal 14 Juni 2013.

Keuntungan Pentavalen yaitu preparat tunggal (DPT-HB-Hib) tidak menambah jumlah suntikan. Efikasi vaksin : 90-99%. Perlu diberikan booster berupa imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib pada usia 1,5 tahun karena kekebalan yang terbentuk setelah pemberian DPT-HB-Hib 3 dosis akan menurun pada usia 15 bulan s/d 1,5 tahun.

Jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayi umur 0 bulan, jenis imunisasi hepatitis Bo, 1 bulan (BCG,Polio 1), 2 bulan (DPT-HB-Hib1, Polio 2), 3 bulan (DPT-HB-Hib2, Polio 3), 4 bulan (DPT-HB-Hib3Polio 4), dan  umur 9 bulan jenis imunisasi Campak. Jadwal pemberian iimunisasi lanjutan pada Batita yaitu umur 18 bulan (1,5 tahun), jenis imunisasi DPT-HB-Hib, interval minimum setelah imunisasi dasar 12 bulan dari DPT-HB-Hib 3. Umur 24 bulan ( 2 tahun) jenis imunisasi Campak, interval minimum setelah imunisasi dasar 6 buan dari Campak dosis pertama.(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini