Ads


» » » Kerusuhan di Lapas Labuhan Ruku Sumut Didominasi Penghuni Kasus Narkoba

Teks Foto  :Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Labuhan Ruku, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara didominasi oleh narapidana maupun tahanan kasus narkoba. Penghuni lapas tercatat sebanyak 867 orang yang terdiri dari 564 narapidana dan 303 tahanan. (foto:kompas.com)

Jakarta,BeritaRayaOnline.Com,-"Lapas Labuhan Ruku didominasi penghuni dengan kasus narkotika sebanyak 440," ujar Kepala Humas Ditjen Pas Kemenkum dan HAM Akbar Hadi melalui pesan singkat pada wartawan, Senin (19/8/2013).

Sebelumnya, Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin mengungkapkan lapas di Indonesia sekarang ini dipenuhi oleh narapidana yang terjerat penggunaan narkoba. Dari total 117.000 narapidana, 56.000 di antaranya adalah napi yang terkait dengan kasus narkoba. Banyaknya warga binaan kasus narkoba sempat dinilai sebagai penyebab lapas melebihi kapasitas.

Sementara itu jumlah petugas lapas tidak seimbang dengan jumlah para warga binaan. Namun, menurut Amir belum perlu adanya penambahan lapas. Amir justru mengharapkan adanya perbaikan undang-undang (UU) yang mengatur kasus narkotika.

Seperti diketahui, kerusuhan pecah di dalam Lapas Labuan Ruku, Sumatera Utara pada Minggu (18/8/2013) sekitar pukul 17.00 WIB. Peristiwa bermula saat tahanan memanggil sipir dan memukulinya. Diduga ada tahanan yang memprovokasi hingga akhirnya terjadi kerusuhan dan pembakaran. Seluruh gedung perkantoran terbakar, demikian juga dapur dan bagian Blok C.

Ketika itu, lapas hanya dijaga dua orang aparat kepolisian dan dua petugas lapas. Data sementara, sebanyak 22 warga binaan berhasil ditangkap kembali dan tiga orang menyerahkan diri. Saat ini kepolisian dan TNI masih berupaya mengejar warga binaan yang melarikan diri.

Kasus pembakaran yang berujung kaburnya para warga binaan telah dua kali terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini. Pertama kasus pembakaran dan kaburnya ratusan warga binaan di Lapas Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara.

Komentar Ketua DPR RI
 Belum usai kasus rusuh di Lapas Tanjung Gusta, kerusuhan dan pembakaran Lapas kembali terjadi di Labuhan Ruku, Sumatera Utara. Akibatnya, puluhan napi berhasil melarikan diri saat terjadi insiden itu.

Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan, peristiwa kerusuhan dan pembakaran sudah kesekian kali terjadi. Oleh sebab itu, dia meminta agar kerusuhan itu dijadikan pembelajaran.

Marzuki meminta agar persoalan rusuh di Lapas harus diinvestigasi. Apa penyebab terjadinya rusuh yang terus berulang di berbagai Lapas di Tanah Air.

"Ini sudah berulang kali terjadi dan menjadi pembelajaran kita. Harus dianalisa kenapa kasus ini terjadi lagi dan berulang. Apakah persoalan diskriminasi, apakah soal remisi PP 9, apakah pelayanan dan sebagainya," ujar Marzuki di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (19/8/2013).

Marzuki menilai, untuk mengantisipasi terjadinya rusuh susulan di lapas lainnya, aspirasi para narapidana juga patut didengarkan. Sebab, kata dia, narapidana juga manusia yang harus dihormati.

"Karena mereka adalah manusia juga yang kebetulan tergelincir melakukan tindak pidana dan dihukum. Diberikan pembinaan tetap kita hormati nilai-nilai kemanusiaannya. Ini tentunya harus diinvestigasi betul, harus dianalisis kenapa kejadian ini berulang dan kita harapkan ke depan tidak terjadi lagi," tegas dia.

Kendati demikian, Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini tak mau berandai-andai tentang apa penyebab utama kerusuhan di Lapas akhir-akhir ini. Karena hal itu, tambah dia, harus terlebih dahulu di analisis dan diinvestigasi.

"Belum jelas. Saya belum bisa menganalisis, karena belum jelas persoalannya," imbuhnya.

Komisi III DPR Akan Pangil Menteri Hukum dan Ham

 Komisi III Bidang Hukum Dewan Perwakilan Rakyat akan memanggil Menteri Hukum dan HAM menyusul banyaknya rusuh di lembaga pemasyarakatan. Rencananya DPR mengagendakan rapat evaluasi menyeluruh terhadap masalah-masalah yang muncul di lapangan.

"Kami juga akan hadirkan pimpinan-pimpinan lapas seluruh Indonesia," kata Wakil Ketua Komisi III, Al Muzamil Yusuf, dalam pesan singkatnya, Senin 19 Agustus 2013.

Menurut Muzamil, kerusuhan yang terjadi di Lapas Tanjung Gusta dan Lapas Labuhan Ruku, Sumatera Utara, karena kondisi lapas yang tidak manusiawi. "Kepadatan lapas karena melebihi kapasitas, sehingga mudah menyulut emosi. Maka perlu ada evaluasi yang integral untuk mengatasi masalah ini," kata dia.

Menurutnya, kelebihan kapasitas menyebabkan gesekan antar napi, hingga menyebabkan kerusuhan di beberapa lembaga pemasyarakatan di tanah air.

Terakhir, narapidana Lapas Kelas II A Labuhan Ruku, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, Minggu sore, 18 Agustus mengamuk dan membakar beberapa ruangan lapas. Kerusuhan terjadi sekitar pukul 17.00.
Dalam kerusuhan itu sebanyak 30 napi melarikan diri, namun 11 di antaranya berhasil ditangkap kembali.(kompas.com/merdeka.com/vivanews.com)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini