Ads


» » » Surplus Beras 10 Juta Ton 2014 Diupayakan Manfaatkan Peluang Kejadian Iklim Kemarau Basah 2013






Jakarta,BeritaRayaOnline.Com, Dinamika perubahan iklim tidak hanya bersifat tahunan, tetapi juga dapat bersifat musiman atau antar musim seperti yang terjadi pada MK 2013 ini.Di mana pada sebagian besar di wilayah Indonesia, meskipun sudah memasuki MK (Musim Tanam) tetap CH (Curah Hujan) masih tetap tinggi (curah hujan MK di atas normalnya).

Pola yang hampir sama pernah terjadi pada 2010 di mana pada saat itu CH MK juga di atas normalnya melebihi yang terjadi sekarang. Tahun 2010 disebut juga tahun tidak ada MK.Target pencapaian surplus beras 10 juta ton tahun 2014 harus diupayakan dengan memanfaatkan peluang kejadian iklim kemarau basah 2013 ini.

Demikian penjelasan Dr.Haryono, Kepala Badan Litbang, Kementerian Pertanian, didampingi seluruh jajaran Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) mengenai Implikasi Kemarau Basah Terhadap Target Swasembada Pangan dalam acara buka puasa bersama Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) di Jakarta, kemarin.

"Musim kemarau 2 atau biasa disebut MT III merupakan periode tanam dari bulan Juni sampai Agustus/September dasarian II 2013. Musim tanam ini merupakan musim tanam yang pendek sebelum memasuki musim hujan yang dimulai pada September dasarian III," katanya.

Data curah hujan Stasiun Cuaca Otomatis Badan Litbang Pertanian menggambarkan bahwa di  beberapa tempat seperti di Aceh, Sumbar, Kalbar, dan Jatim, terdapat peningkatan curah hujan pada April. Di beberapa wilayah seperti Riau, Sumsel, da Bandung curah hujan berada di bawah rata-rata pada Mei dan Juni. Jumlah curah hujan di Sumbar, Maluku, dan Jatim berada > 100 mm/bulan pada Juni 2013. Diperkirakan jumlah hujan seperti itu masih terjadi hingga Juli.

Analisa dan prospek MT 1 atau Musim Hujan 2013/2014 berdasarkan dinamika iklim global yang dilakukan oleh lembaga riset internasional seperti NCEP/NOAA USA, JAMSTEC Japan, BoM/POAMA Australia, dan BMKG menyatakan kondisi iklim global pada periode Juli sampai Desember diperkirakan berisar antara La Nina lemah sampai dengan normal, sehingga BMKG memperkirakan pada MT 1 (MH) 2013/2014 (September Dasarian III 2013 dengan Februari 2014) kondisi iklim global berada dalam kondisi normal.

Update Prediksi MK 2013
Berdasarkan hasil analisis curah hujan musim kemarau oleh BMKG (periode Juli sampai September 2013) sifat hujan Juli dan Agustus umumnya di atas normal. Wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku intensitas curah hujan diprediksi berkisar antara menengah (CH:100-300 mm/bulan) hingga tinggi (CH: 300-400mm/bulan). Wilayah Aceh, Lampung, Jawa,, hingga Nusa Tenggara, sebagian Kalsel, Gorontalo, dan Sulut, intensitas hujan diprediksi berkisar antara rendah (CH:< 100 mm/bulan).

Wilayah Sultra, Sulteng, dan Papua, intensitas curah hujan diprediksi berkisar antara tinggi hingga sangat tinggi.Intensitas hujan ini akan berkurang secara gradual pada Agustus dan September.Sifat hujan pada September umumnya normal. Namun, terjadi peningkatan luas wilayah dengan sifat hujan Bawah Normal, terutama di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Secara gradual kemudian akan berkurang hingga normal, terutama di sebagian besar Sumatera, Kalibar, dan Jabar-Jateng, serta sebagian Papua. Potensi curah hujan di atas normal diperkirakan masih berlangsung sampai akhir Agustus 2013 di Pulau Jawa, sedangkan memasuki Septemmber potensi curah hujan akan menurun dan di bawah normal.

Awal tanam dominan pada MT III 2013 adallah Mei III- Jun I hingga Jun II-III terutama di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Sedangkan di Kalimantan serta Maluku dan Bali-Nusa Tenggara, awal tanam dominan pada Juli I-II dan Agustus II-III.

Estimasi luas tanam potensial pada MT III 2013 pada lahan sawah (irigasi tadah hujan dan rawa pasang surut) untuk padi dan sawah  pada awalJuni sekitar 1.44 juta Ha dapat meningkat menjadi sekitar 2.64juta Ha pada periode Juli dan Agustus 2013. Potensi luas tanam jagung/kedelai yang semula sekitar 1.94 juta Ha dapat berkurang menjadi 1.77 juta Ha dan kedelai saja dari 0.52 juta Ha menjadi tidak direkomendasikan. Estimasi luas tanam ketiga komoditas tersebut di masing-masing provinsi .(lasman)


eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini