Ads


» » » Mutu Kakao Indonesia Rendah, 90 Persen Tidak Difermentasi


Ragunan, Pasar Minggu BeritaRayaOline.Com,- Suatu fakta yang harus diakui- Indonesia merupakan produsen biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana- justru memiliki mutu kakao paling rendah karena mutunya tidak diawasi dengan baik.Diperkirakan 90 persen biji kakao Indonesia tidak difermentasi dan hanya 10 % yang difermentasi. Itu pun lebih banyak dilakukan oleh PTPN dan perkebunan swasta.

Demikian dikatakan oleh  Dr.Ir.Haryono,MSc Plt,Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian ( PPHP), Kementerian Pertanian, ketika memberi sambutan pada acara "Public Hearing Draft Permentan Tentang Persyaratan Mutu dan Pemasaran Biji Kakao"di Kantor Pusat Kementerian Pertanian di Jakarta, Selasa (23/7/2013).

Menurutnya, permasalahan mutu biji kakao ini menyebabkan biji kakao Indonesia di pasar internasional selama ini mendapat potongan harga atau discount."Kerugian devisa karena harga jual yang rendah disebut diperkirakan sekitar US$ 150 juta atau Rp 1,4 triliun per tahun.Di sini lain untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan kakao dalam negeri, hingga saat ini Indonesia masih mengimpor biji kakao fermentasi dan juga cocoa powder yang volumenya terus bertambah,"katanya.

Berdasarkan Statistik Pertanian tahun 2012, volume impor kakao mencapai sekitar 53 ribu ton dengan nilai US$ 194 juta, meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sementara volume ekspor biji kakao terus menurun. Data statistik menuunjukkan ekspor biji kakao mencapai sekitar 432 ribu ton (2010) dan 210 ribu ton (2011).

"Meningkatnya impor dan menurunnya ekspor biji kakao memberikan sinyal diantaranya industri pengolahan kakao semakin berkembang di tanah air.Investasi asing pada industri pengolahan kakao terus meningkat dalam beberapa tahun ini semenjak diberlakukannya bea keluar biji kakao" ujar Haryono Plt.Dirjen PPHP, Kementerian Pertanian.

"Mutu kakao yang baik secara massal  pada gilirannya akan memperbaiki harga. Oleh karena itu kita harapkan dengan membaiknya harga kakao akan menjadikan petani semakin bergairah memproduksi biji kakao"katanya lagi.

Dengan semakin cepatnya pertumbuhan industri pengolahan kakao di dalam negeri serta tuntutan pasar ekspor menjadikan pengembangan kakao dari sisi kualitas dan kuantitas merupakan hal yang mutlak dilakukan

"Untuk itulah dilakukan penyusunan Peraturan Menteri Pertanian atau Permentan tentang persyaratan mutu dan pemasaran biji kakao fermentasi. Diharapkan dengan adanya regulasi ini akan mendorong peningkatan mutu dan mempermudah penelusuran kembali kemungkinan terjadinya penyimpangan produksi dan peredaran biji kakao, sehingga pada gilirannya meningkatkan daya saing dan nilai tambah biji kakao Indonesia mendukung pengembangan industri kakao dalam negeri,memberikan perlindungan pada konsumen dari peredaran kakao yang tidak memenuhi persyaratan mutu " katanya.(lasman)

Teks Foto : Plt.Direktur Jenderal PPHP Kementerian Pertanian Dr.Ir.Haryono MSc dan Dr.Ir.Gardjita Budi Direktur Mutu dan Standarisasi  Ditjen PPHP dalam acara pembukaan  public hearing draft Permentan tentang persyaratan dan pemasaran biji kakao di Kantor Pusat Kementerian Pertanian di Jakarta Selasa (23/7/2013) (foto atas) dan para peserta public hearing draft Perrmentan yang antusian mengikuti acara ini (foto bawah). (Foto :Lasman Simanjuntak/ BeritaRayaOnline)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini