Ads


» » » Achmad Suryana : Tak Mungkin Petani Kecil Dihilangkan Melalui Kebijakan Radikal


Jakarta, BeritaRayaOnline.Com,-"Di Indonesia rata-rata petani kecil hanya memiliki 0,33 Ha, sedangkan di Asia and Pacific Economic Cooperation atau APEC lebih kecil lagi yaitu 0,22 Ha, dan untuk tahun 2020 malah hanya tinggal 0,18 Ha.Jadi, tak mungkin petani kecil dihilangkan melalui kebijakan radikal.Ini desain kita, petani kecil tetap eksis, punya dampak positip ketahanan pangan global , dan juga kesejahteraan petani," jawab Achmad Suryana, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian di Jakarta, Rabu (3/7/2013).

Menjawab pertanyaan wartawan tentang persoalan petani di Indonesia saat ini yakni petani kecil dengan lahan yang sempit, Achmad Suryana yang menjelaskan mengenai hasil pertemuan Policy Parnershipon Food  Security (PPFS ke-2) atau kemitraan dalam kebijakan ketahanan pangan bagian dari kegiatan APEC (Asia and Pacific Economic Cooperation) berlangsung di Medan 22-24 Juni 2013, mengatakan lagi yang menarik adalah investasi terbesar di sektor pertanian ada ada petani kecil."Petani kecil invesment terbesar lebih dari 60 %..Bahkan untuk komoditas padi, jagung, dan kedele hampir 100 %  produksi petani kecil kita. Khusus padi tak ada pengusaha yang tanam padi seluas 1000 Ha.Hampir 100 % produksi pertanian kita dihasilkan petani kecil," ujarnya.

Indonesia memiliki peranan yang sangat strategis dalam penyelenggaraan PPFS tahun 2013 antara lain, sebagai tuan rumah APEC 2013, Indonesia secara langsung bertangungjawab atas kelancaran dan keberhasilan penyelenggaraan PPFS."Sebagai tuan rumah APEC Indonesia otomatis mengemban tugas menjadi Ketua PPFS 2013.Menteri Pertanian mempercayakan tugas ini kepada Kepala Badan Ketahanan Pangan," ucapnya.

Sebagai Ketua PPFS, Indonesia mempunyai prakarsa, pertama mengusulkan tema PPFS : Alligning Farmers into Global Food Security (penyelarasan peran petani dalam pencapaian ketahanan pangan global). Usulan ini diangkat pada pertemuan PPFS 1dan disetujui oleh seluruh ekonomi APEC. Kedua, penyelenggaraan Farmer's Day dengan mengangkat sesi best practice sharing yaitu upaya berbagai pengalaman antar petani di kawasan Asia dan Pasifik dalam membangun public private partnership, bersamaan dengan penyelengaraan pertemuan di Medan. Ketiga, mengusulkan kebijakan untuk mengangkat peran petani kecil (smalldholder farmers) untuk dilibatkan dalam rantai produksi pangan (supply chain) pada road map ketahanan pangan APEC.

Menurut Achmad Suryana, pertemuan PPFS di Medan merupakan pertemuan PPFS kedua setelah pertemuan pertama di Jakarta pada Januari 2013. Pertemuan pertama di Jakarta memiliki arti penting dalam mengkonsolidasikan peran para pihak (stakeholder) dalam upaya bersama untuk mencapai ketahanan pangan di kawasan APEC."Khususnya dalam pelibatan peran petani sebagai salah satu pelaku utama dalam pencapaian ketahanan pangan global,"jelasnya.

Sebagai rangkaian pertemuan PPFS 1 di Jakarta,pertemuan PPFS 2 di Medan membahas hasil-hasil penugasan PPFS 1. Dalam membawa isu pelibatan petani dalam pencapaian ketahanan pangan global. Dalam PPFS 2 ini diselenggarakan agenda berbagi pengalaman (best practice sharing) diantara para petani dan expo/exhibition anggota ekonomi APEC dalam melaksanakan kemitraan((partnership) antara petani dan sektor swasta yag mendorong kemandirian dan kesejahteraan petani."Beberapa ekonomi APEC yang berpartisipasi adalah Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan New Zealand. Indonesia juga menampilkan sektor swasta yang telah menjalin kemitraan dengan para petani, hasil-hasil teknologi, dan kemandirian petani,"kilahnya (lasman)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini