Ads


» » » Mentan : Petani Gurem Tak akan Hadapi Situasi Sulit Akibat Kenaikan BBM Bersubsidi

Jakarta, BeritaRayaOnline.Com,-" Petani di Indonesia hampir 60 % menerima beras raskin. Petani masuk dalam kategori masyarakat miskin, sehingga mereka mendapat dana kompensasi BBM Misalnya, bantuan langsung masyarakat, raskin ditambah jadi 15 bulan, dan juga bantuan siswa miskin.Untuk dampak langsung kenaikan BBM bersubsidi, Insya Allah petani gurem kita tidak akan hadapi situasi yang sulit karena dia dapat kompensasi," ujar Menteri Pertanian Suswono  menjawab pertanyaan wartawan soal dampak langsung kepada para petani sehubungan dengan kenaikan BBM bersubsidi di Jakarta, Jumat pagi (21/6/2013).

Ditemui wartawan usai meninjau stand Pasar Tani di Kementerian Pertanian dalam rangka peringatan Hari Krida Pertanian(HKP) ke-41, Menteri Pertanian Suswono mengatakan lagi untuk ke depannya memang kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) akan mengurangi subsidi."Dan, kalau subsidi bisa dialihkan untuk perbaikan irigasi atau jalan usaha tani, tentu sangat bermanfaat. Namun kenyataan saat ini hampir 70 % subsidi BBM dinikmati oleh orang-orang mampu,"ucapnya.

Menurut Mentan, petani- peternak kita agar tetap bergairah dan termotivasi adalah disoal harga. Dia harus dapat inisiatif harga yang memadai. "Oleh karena itu dengan demand masyarakat kita yang meningkat, harapan petani kita bisa menikmati harga yang baik. Petani bisa menikmati harga yang baik. Beberapa pangan pokok sudah ada perlindungan, misalnya beras dan gabah sudah ada HPP, begitu pula kedele sudah ada HPP. Dengan harga yang bisa menyelamatkan harga di tingkat petani, ini sangat positip,"katanya.

Menteri Pertanian Suswono mengharapkan komoditas-komoditas lainnya yang kadangkala fluktuasinya luar biasa juga bisa punya HPP (harga Perlindungan Petani). Karena ternyata selama ini yang "menikmati" kebanyakan pedagang, bukan petani."Misalnya cabe  di Sukabumi pernah mencapai harga Rp 100 ribu per kg, ternyata harga cabe di tingkat petan hanya Rp 20.000 per kg.Belum lagi harga cabe keriting di tingkat konsumen Rp 20 ribu per kg, ternyata di tingkat petani harga hanya Rp 10 ribu per kg. Ini kejadiannya di Pasar Cisaat, tidak jauh dari lokasi petani menanam cabe keriting, bisa selisih harga sampai Rp 10 ribu per kg, lagi-lagi yang nikmati adalah para pedagang, bukan petani,"tegasnya seraya menambahkan dengan akan terbitnya Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (UU PPP) diharapkan dapat melindungi dan memberdayakan petani.

Selain itu ke depannya akses terhadap lahan untuk petani harus ditambah tidak lagi 0,3 hektare.Terutama bila nanti terbit Undang-Undang Pertanahan, akses terhadap lahan untuk petani bisa bertambah.(lasman)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini