Ads


» » Produk Obat Indonesia Dalam Bentuk Jamu Miliki Nilai Histroris

Jakarta,BeritaRayaOnline.Com,-Produk tanaman obat Indonesia dalam bentuk jamu memiliki nilai historis, menjaga dan mengembangkann warisan leluhur bangsa Indonesia (traditional knowledge) yang dikenal luas masyarakat. Jamu merupakan warisan turun temuran yang bersumber pada kekayaan alam.

Demikian sambutan Menteri Pertanian, Suswono, pada pembukaan Agro and Food Expo 2013 berlangsung di Jakarta Convention Center(JCC) Balai Sidang Senayan, Jakarta, Kamis (23/5/2013)."Bukti empirik menunjukkan  bahwa jamu dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat, utamanya dalam upaya promotif dan preventif. Dengan demikian jamu sebagai warisan budaya yang telah ikut berperan menjaga kesehatan generasi bangsa merupakan asset nasional yang sangat potensial,"katanya.

Oleh karena itu, lanjut Mentan Suswono,  kita ingin mengangkat "jamu" sebagai sebagai produk nasionalyang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di dunia internasional."Pertumbuhan pasar agroindustri tanaman obat baik di pasar internasional maupun di pasar nasional menunjukkan peningkatan yang bermakna,"selanya.

Pada 2010 nilai pasar obat herbal Indonesia mencapai Rp 10 triliun meningkat Rp 11 triliun (2011), dan Rp 12,35 triliun (2012). Sampai dengan tahun 2010 tercatat jumlah industri di bidang obat tradisionil sebanyak 1.908 terdiri dari 79 industri obat tradisionil (IOT), 1.413 industri kecil obat tradisionil (IKOT), dan 416 industri rumah tangga (PIRT). Sementara itu nilai pasar herbal dunia pada 2013 mencapai sekitar US$ 63 miliar.

"Hal ini menjadi potensi yang cukup besar bagi Indonesia untuk mengembangkan agroindustri herbal ke pangsa pasar internasional. Saat ini pasar jamu Indonesia sudah berkembang hingga ke Korea, Taiwan, Hongkong, Jepang, Amerika, Timur Tengah, dan Rusia. Potensi penjualan sampai 2015 pada pasar domestik diperkirakan dapat mencapai Rp 20 triliun dan Rp 16 triliun pada pasar ekspor,"ucapnya.

Pada bagian lain Menteri Pertanian Suswono mengatakan sebagai salah satu negara penghasil rempah terkemuka di dunia, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Rempah telah menjadi magnet yang kuat bagi berbagai bangsa-bangsa di dunia untuk datang ke Indonesia menguasai produk-produk
rempah, bahkan menjajah Indonesia."Pentingnya peran komoditas rempah di Indonesia di dunia internasional tercermin dari sebutan Indonesia sebagai Spice Island Country.Rempah merupakan komoditas yang memegang peranan penting dalam perdagangan dunia sejak ratusan tahun yang lalu.Begitu pentingnya produk rempah-rempah sehingga nilainya dianggap setara dengan logam mulia. Rempah menduduki posisi keempat dari komoditas pertanian Indonesia yang mempunyai nilai ekspor terbesar,"katanya.

Mengacu pada data BPS tahun 2011 dalam kurun waktu 3 tahun terakhir (2009-2011) tujuan ekspor rempah-rempah Indonesia masih didominasi Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 121,177 juta dengan volume 18.959 ton, dari nilai total ekspor sebesar US$ 211,410 juta ton dengan volume 41.462 ton rempah-rempah yang diekspor.Hasil kajian BPEN pasar rempah dunia untuk Uni Eropa mengalami peningkatan  sebesar 9 % per tahun. Nilai total ekspor rempah ke Uni Eropa pada 2010 US$ 101,942 juta.

 Beberapa komoditas rempah yang diperdagangkan di pasar internasional antara lain lada, pala, vanila, kayu manis, cengkeh, kunyit, dan jahe."Dari sekian banyak komoditas rempah tersebut, lada dan pala merupakan komoditas utama dalam perdagangan rempah-rempah dunia, sekaligus merupakan produk unggulan Indonesia dibandingkan dengan komoditas rempah lainnya,"ucapnya. (lasman)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini